Kutipan
Pasal 40
Setiap orang atau badan dilarang:a. menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil;
b. menyuruh orang lain untuk menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil;
c. membeli kepada pedagang asongan atau memberikan sejumlah uang atau barang kepada pengemis, pengamen, dan pengelap mobil.
Mengemis haram, pengemis tidak selalu miskin, membaca berita disini, mengetahui bahwa di suatu desa yang bernama desa Pragaan Daya Kecamatan Pragaan Sumenep, suatu desa yang berpenduduk sekitar 9.500 jiwa ini, sebanyak 80 persen penduduknya menjadi pengemis.
Jadi jangan terkejut kalau melihat rumah-rumah besar dan dipenuhi hiasan, siapapun tidak akan percaya kalau desa yang tergolong maju inilah yang dijuluki dengan kampung pengemis. Memang bukan kemiskinan yang menjadi alasan, tetapi karena alasan terbatasnya keahlian sehingga mereka memutuskan untuk tetap meneruskan “pekerjaan” turun temurun ini.
Balik lagi masalah mengemis, iya.. iya, saya setuju bahwa mengemis itu haram jika digunakan untuk memperkaya diri, jika menggunakan cara-cara yang menipu serta mengekploitasi anak-anak untuk meraih simpati . Disatu sisi saya berpikir, pantaskah kita menghakimi, jika seseorang datang meminta kepada kita dengan pengharapan, benarkah kita mengacuhkannya padahal sih mungkin saja memang ia butuh pertolongan, bukankah tidak baik berburuk sangka. Namun di sisi lain, islam sendiri tidak menyukai perbuatan mengemis selama masih bisa menggunakan tubuh untuk bekerja. Jujur, untuk hal ini aku lebih menghormati seorang pemulung.
Lah, Terus kalau MENGEMIS sama Tuhan.. ?
Note : habis baca berita di sini.. emang lebih baik kalau memberi sedekah “tangan kanan memberi, tangan kiri tidak mengetahui” yah..

Zaman sekarang ini lebih baik menyalurkan ke lembaga amil zakat, kang. Lembaga2 itu punya data dan lebih akurat dalam menyampaikan sedekah. Selain lebih akurat, lembaga2 itu juga punya program2 untuk memberdayakan orang miskin. Jadi lebih tenang menyalurkan ke sana.
sepakaaattt !! untuk “tangan kanan memberi, tangan kiri tidak mengetahui”
Menari desa itu di Sumenep ..ingin melihatnya..
seperti desa desa di wonogiri – jawatengah, yang sebagian besarnya isi pedagang bakso di Jakarta,..kampungnya penuh dengan antena parabola di genteng dan kadang mobil.Bedanya mereka kerja keras di jakarta
bener juga… makasih usulnya